
Harga emas global mengalami koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan investor setelah reli spektakuler sepanjang Januari 2026. Namun, para analis menegaskan bahwa penurunan ini lebih mencerminkan proses penyesuaian pasar ketimbang sinyal berakhirnya tren bullish jangka panjang logam mulia.
Aksi jual besar-besaran terjadi tak lama setelah emas dan perak mencetak rekor kenaikan harian terbesar dalam sejarah. Berdasarkan data Kitco, harga emas dan perak masing-masing anjlok signifikan pada akhir pekan lalu, menyusul lonjakan ekstrem yang membawa kedua komoditas tersebut ke level tertinggi sepanjang masa.
Pada Kamis (29/1/2026), harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi di level US$ 5.595,46 per ons troi, mencatatkan kenaikan sekitar 29,5% hanya dalam satu bulan. Sementara itu, perak melonjak lebih agresif, sempat menembus level US$ 121 per ons dengan kenaikan bulanan mencapai 68,5%. Laju kenaikan setajam ini, terutama terjadi di bulan pertama tahun berjalan, dinilai sulit dipertahankan secara berkelanjutan.
Koreksi yang “Tak Terelakkan”
Head of Metals Britannia Global Markets, Neil Welsh, menyebut volatilitas ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir sebagai konsekuensi alami dari reli yang terlalu cepat dan terlalu besar.
“Emas dan perak sudah berada pada kondisi teknikal yang terlalu panas. Kenaikan mendekati 20% untuk emas dan lebih dari 40% untuk perak, ditambah tingginya posisi spekulatif, leverage, serta aktivitas opsi, merupakan karakteristik klasik dari puncak jangka pendek,” ujar Welsh.
Pandangan senada disampaikan oleh Head of Commodity Strategy Saxo Bank, Ole Hansen. Menurutnya, lonjakan harga bulanan yang ekstrem membuat kondisi pasar menjadi rapuh, dengan likuiditas yang menipis dan sensitivitas harga yang meningkat.
“Jika dilihat secara harian memang tampak brutal. Namun, jika ditarik ke perspektif mingguan, volatilitas ini masih tergolong wajar bagi pasar emas yang belakangan bergerak sangat emosional, bahkan menyerupai karakter pergerakan perak,” jelas Hansen.
Director of Gold and Silver Metals Focus, Matthew Piggott, bahkan menyebut reli Januari sebagai bentuk irrational exuberance. Meski demikian, ia menilai koreksi tajam justru berperan sebagai mekanisme penyehat pasar.
Tren Jangka Panjang Masih Utuh
Di balik tekanan jual jangka pendek, mayoritas analis sepakat bahwa fondasi tren kenaikan emas belum rusak. Koreksi ini dinilai lebih sebagai position adjustment di tengah tren naik, bukan awal dari fase penurunan struktural.
Welsh menegaskan bahwa faktor-faktor makro utama yang mendorong emas masih sangat relevan. “Utang global yang terus membengkak, ketidakpastian geopolitik, serta kebutuhan lindung nilai masih menjadi penopang kuat. Kami melihat ini sebagai koreksi di tengah tren naik yang lebih besar,” ujarnya. Ia bahkan menilai logam mulia masih berpeluang tampil solid hingga 2026, meskipun dengan rentang pergerakan harga yang jauh lebih lebar.
Ole Hansen juga menilai emas masih berpeluang melanjutkan kenaikan menuju US$ 6.000 per ons hingga akhir tahun ini, terutama jika volatilitas pasar keuangan global kembali meningkat.
Dari sisi teknikal, Market Strategy Swissquote, Ipek Ozkardeskaya, melihat potensi emas menguji area dukungan di kisaran US$ 4.600–4.700 per ons. Namun, ia menegaskan bahwa setiap koreksi justru berpotensi dimanfaatkan investor jangka menengah dan panjang untuk menambah eksposur.
“Selama narasi makro belum berubah, koreksi akan dilihat sebagai peluang beli, bukan alasan untuk keluar dari pasar,” ujarnya.
Bayang-Bayang The Fed dan Politik AS
Selain faktor teknikal, pelemahan emas juga dipicu oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Sentimen ini menguat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed berikutnya.
Warsh dikenal memiliki pandangan hawkish terhadap inflasi, yang sempat memicu kekhawatiran pasar akan kebijakan moneter yang lebih ketat. Namun, sejumlah analis menilai kepemimpinannya justru berpotensi membawa stabilitas kebijakan, terutama di tengah tekanan politik Trump yang konsisten mendorong suku bunga lebih rendah.
Pasar saat ini masih berhati-hati dalam memproyeksikan pelonggaran moneter agresif. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama baru terjadi pada Juni 2026, dengan total hanya dua kali pemotongan sepanjang tahun.
Ekonom BNP Paribas bahkan memproyeksikan The Fed akan menahan suku bunga sepanjang 2026 di kisaran 3,5%–3,75%, seiring pertumbuhan ekonomi AS yang masih solid dan pasar tenaga kerja yang relatif kuat.
Data inflasi terbaru turut memperkuat sikap hati-hati tersebut. Indeks Harga Produsen (PPI) AS tercatat naik 3,0% sepanjang 2025, sementara PPI inti meningkat 3,3%, mengindikasikan tekanan inflasi yang belum sepenuhnya jinak.
Fokus Pasar ke Depan
Dalam waktu dekat, perhatian investor akan tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS, khususnya laporan nonfarm payrolls Januari, serta keputusan kebijakan moneter dari sejumlah bank sentral utama dunia, seperti Reserve Bank of Australia, Bank of England, dan European Central Bank.
Bagi investor, pesan utama dari koreksi ini relatif jelas: volatilitas emas meningkat, namun narasi besar belum berubah. Selama ketidakpastian geopolitik, risiko fiskal, dan tekanan struktural terhadap mata uang fiat masih membayangi, emas tetap relevan sebagai aset lindung nilai—meski perjalanan menuju level yang lebih tinggi tidak lagi mulus.
Sumber: https://investor.id/market/426850/harga-emas-koreksi-brutal-pakar-sebut-ini-bukan-akhir-tren/


