CDIA Melantai di Bursa, Anak Baru Prajogo Pangestu yang Siap Melaju Ditunggu Tanggal Mainnya

Update: Sejak melantai di bursa tanggal 9 Juli 2025 lalu, genap 3 hari melantai di bursa CDIA udah cuan bagger atau kenaikan diatas 100% atau sudah 3 hari berturut-turut mengalami ARA. Saat tulisan ini di posting, harganya di parkir di 400 per lembar. Kira-kira, sampai kapan CDIA mampu mengungguli market dan memikat hari para pelaku pasar?

Setelah sukses membawa BREN dan CUAN terbang tinggi di langit bursa, taipan energi dan petrokimia, Prajogo Pangestu, kembali menurunkan satu lagi anak emasnya ke pasar modal: PT Chandra Daya Investasi Infrastruktur Tbk (CDIA).

Tapi kali ini, euforianya terasa sedikit berbeda. Di satu sisi, ada optimisme yang menular karena rekam jejak Grup Chandra Asri. Tapi di sisi lain, ada tanda tanya besar: apakah CDIA bisa mengulang kisah ARA berjilid-jilid seperti seniornya? Mari kita bongkar satu per satu, bukan hanya data mentahnya—tapi juga ceritanya.

🧮 12 Miliar Saham Baru: Karpet Merah atau Beban Berat?

CDIA bakal melepas 12 miliar saham ke publik—setara 10% dari total saham beredar. Itu angka yang masif. Jauh lebih besar dibandingkan CUAN (1,69 miliar) atau BREN (4 miliar). Historinya, IPO dengan lembar saham jumbo seringkali kesulitan ngebut di hari-hari awal.

Tapi jangan buru-buru skeptis. BREN dan CUAN juga awalnya dikira terlalu besar. Nyatanya? Mereka bikin investor ritel menyesal karena nggak ikut di gelombang awal. Jadi, soal ukuran, bukan cuma soal berapa, tapi siapa yang memegang kendali. Dan nama Prajogo Pangestu masih punya magnet kuat di kalangan investor domestik.

🚢 Seluruh Dana IPO untuk Ekspansi: Serius Bangun Bisnis, Bukan Hanya Listing

Berbeda dari banyak IPO yang ‘hanya’ setor modal, CDIA terlihat punya agenda yang sangat terstruktur:

  • Rp871 miliar akan dialirkan ke anak usaha pelayaran: PT Chandra Shipping Internasional dan PT Marina Indah Maritim untuk membeli armada baru.

  • Rp1,5 triliun dikucurkan ke PT Chandra Samudera Port, untuk membangun infrastruktur energi—mulai dari tangki penyimpanan, saluran ethylene, hingga fasilitas logistik pendukung.

Jika dananya kurang? Manajemen tak menutup kemungkinan cari pinjaman bank atau danai dari kas internal. Ini menunjukkan: CDIA memang sedang membangun kapal besar, bukan sekadar bersandar di pelabuhan bursa.

🤝 Sinergi Regional: BUMN Thailand Ikut Pegang Kemudi

CDIA bukan perusahaan lokal murni. Ia adalah hasil kolaborasi antara TPIA (70%) dan Phoenix Power B.V. (30%), entitas milik EGCO Group—perusahaan listrik BUMN Thailand.

Modal awal pun tak main-main: USD 185 juta disuntikkan ke CDIA, setara Rp3,1 triliun. Artinya, mereka tidak sedang jual cerita, tapi memang sedang membangun infrastruktur keras.

CDIA bukan sekadar pengangkut. Ia hadir sebagai integrator logistik energi: pelabuhan, kapal, penyimpanan, pipa, pembangkit, hingga penjualan BBM dan jasa logistik. Sebuah portofolio infrastruktur energi yang komplet dari hulu ke hilir.

📈 Laba Bersih Lebih Besar dari Laba Kotor? Kok Bisa?

Salah satu yang bikin mata investor mengernyit adalah ini: laba bersih CDIA tahun 2024 mencapai USD 30,63 juta, padahal laba kotornya hanya USD 10,46 juta. Sekilas aneh, tapi mari kita bedah.

🔹 Pendapatan keuangan: USD 31 juta—dari bunga deposito, kupon obligasi, dan sejenisnya.
🔹 Bagian laba entitas asosiasi: USD 10,97 juta—dari Krakatau Tirta Industri dan Krakatau Posco Energi, yang sahamnya dimiliki 45–49%.

Artinya, meski bisnis operasional masih ramping, CDIA punya “tabungan” dan “koneksi” yang menghasilkan. Ini bisa jadi peluang atau bisa juga sinyal bahwa bisnis utamanya belum maksimal. Tergantung bagaimana investor membacanya.

📊 6 Underwriter & Valuasi Premium: Cerita yang Sudah Sering Kita Dengar

CDIA menggaet 6 penjamin emisi, dua di antaranya sudah sukses membawa IPO BREN dan CUAN ke langit: Henan Putihrai dan BNI Sekuritas. Empat lainnya adalah DBS, OCBC, BCA, dan Trimegah.

Tapi yang menarik perhatian tentu harga penawaran IPO: Rp170–Rp190 per saham, dengan estimasi PER 42–48x dan PBV 1,75–1,96x. Di mata investor nilai, ini tergolong premium. Tapi buat penggemar pertumbuhan atau momentum, bisa jadi masih masuk akal—tergantung ekspektasi terhadap ekspansi besar yang sedang disiapkan.

🎯 Kesimpulan

CDIA Sedang Merakit Mesin, Bukan Sekadar Menjual Label. Jadi, CDIA bukan saham yang akan langsung terbang tinggi hanya karena euforia. Tapi ia juga bukan IPO yang sekadar lewat. Dengan sokongan nama besar, aliran dana besar, dan peta bisnis yang konkret dari pelabuhan hingga energi, CDIA sedang menyusun blueprint untuk menjadi pemain logistik energi kelas berat.

Apakah ia akan mengulang BREN dan CUAN? Tidak ada jaminan. Tapi satu hal pasti: CDIA adalah cerita yang belum selesai ditulis. Dan seperti semua IPO dalam grup Prajogo, yang berani masuk lebih awal akan selalu punya posisi strategis—asalkan tahu apa yang sedang mereka beli.

Iklan

Melalui ebook ini, Kamu akan belajar Komunikasi Keuangan dengan Mudah Secara Visual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *