
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan performa menjanjikan. Dalam sebulan terakhir, indeks kebanggaan pasar modal Indonesia ini telah mencatatkan kenaikan impresif sebesar 8,74%, dan ditutup menguat 0,66% di level 7.214 pada Jumat (23/5). Tak heran jika optimisme pasar kembali menguat, terlebih setelah analis senior dari PT Sucorinvest Asset Management, Jemmy Paul Wawointana, melontarkan prediksi bahwa IHSG berpeluang menembus level psikologis 8.000.
Syarat ini harus terpenuhi
Namun, prediksi tersebut tak datang begitu saja. Jemmy menyebut bahwa peluang IHSG mencapai level 8.000 sangat bergantung pada keberhasilan eksekusi program strategis pemerintah, khususnya melalui lembaga investasi negara yang baru, Danantara. Dalam presentasinya pada acara Indonesia Insurance Summit 2025 yang digelar OJK di Bali, Jemmy menjelaskan bahwa keberhasilan Danantara akan menciptakan efek domino positif terhadap profitabilitas BUMN dan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Jika eksekusi Danantara sangat berhasil, ada peluang indeks bisa mencapai level 8.000. Tapi untuk saat ini, target realistis kami masih di angka 7.400,” ujar Jemmy. Ia menekankan bahwa kinerja BUMN menjadi indikator penting. Jika perusahaan-perusahaan pelat merah mampu menghasilkan laba yang lebih besar melalui pendanaan strategis Danantara, maka pasar akan merespons dengan positif.

Lebih jauh lagi, Jemmy bahkan melempar proyeksi jangka menengah yang mengundang perhatian: IHSG bisa naik dua kali lipat ke level 14.000 dalam tiga hingga empat tahun ke depan—tentu dengan catatan Danantara berhasil mendorong transformasi ekonomi yang nyata.
Selain faktor struktural seperti Danantara, Jemmy juga menyoroti dinamika makroekonomi yang bisa menjadi pemicu atau penahan laju indeks. Salah satu yang menjadi sorotan adalah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI). Hingga saat ini, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) ke level 5,5%, dengan dua kali pemangkasan yang terjadi pada Januari dan Mei 2025.
Masih ada ruang untuk pelonggaran moneter, menurut Jemmy. “Penurunan suku bunga bisa berlanjut sebesar 25 hingga 50 bps tahun ini, terutama jika rupiah terus menguat hingga ke level Rp16.300–Rp16.400 per dolar AS,” ujarnya.
Penurunan suku bunga akan berdampak positif terhadap cost of capital, mendorong investasi, serta memperbaiki likuiditas pasar. Tak hanya itu, kebijakan ini juga akan sinergis dengan kebijakan fiskal pemerintah yang telah mengalihkan lebih dari Rp100 triliun dana APBN—berasal dari dividen BUMN—untuk mendukung program Danantara. Ini adalah bentuk efisiensi belanja negara yang diharapkan bisa memperkuat daya dorong pembangunan ekonomi.
Dengan kombinasi antara stabilitas makro, reformasi fiskal, dan keberhasilan program Danantara, pasar mulai melihat masa depan yang lebih cerah. IHSG di level 8.000 bukan lagi sekadar mimpi, tetapi peluang nyata yang bisa terwujud jika seluruh ekosistem investasi nasional bergerak harmonis.

Bagi para investor, ini adalah momentum refleksi dan antisipasi. Meningkatkan pemahaman terhadap arah kebijakan pemerintah serta tren pasar menjadi kunci. Sebab dalam dunia investasi, keberanian harus dilengkapi dengan wawasan yang tajam.
IHSG memang tengah mendaki, tapi seperti gunung tinggi, pencapaiannya membutuhkan kerja sama banyak pihak. Kini, bola ada di tangan Danantara dan pengambil kebijakan. Apakah indeks benar-benar akan menjejak level 8.000? Pasar menunggu jawabannya.
Ringkasan Berita
- Analis dari PT Sucorinvest Asset Management memprediksi IHSG berpotensi menembus 8.000 jika lembaga investasi negara, Danantara, mampu meningkatkan laba BUMN dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Target realistis untuk tahun ini berada di level 7.400.
- Dalam jangka menengah, jika Danantara sukses, IHSG bahkan diproyeksikan bisa mencapai 14.000 dalam 3–4 tahun. Sementara itu, Bank Indonesia diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps, atau hingga 50 bps bila rupiah terus menguat.
- Penurunan suku bunga ini juga dipengaruhi oleh kebutuhan besar pembiayaan negara dan alokasi anggaran dari dividen BUMN ke program Danantara.

