
Apa yang dipikirkan seorang direktur manajer investasi ketika menata portofolio? Bagaimana pandangan mereka soal waktu masuk pasar, risiko volatilitas, dan strategi jangka panjang?
Menurut Fajrin Hermansyah, Direktur Sucorinvest Asset Management, investasi bukan sekadar soal mengejar return terbesar. Lebih dari itu, investor, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman perlu memahami seluk-beluk risiko, momentum pasar, serta prinsip disiplin yang matang.
1. Tujuan Investasi Lebih dari Sekadar Return Tinggi
Investor sering kali terjebak mindset: “Saya ingin return setinggi-tingginya!” Padahal menurut Fajrin, fokus investasi harus lebih luas, yaitu:
menjaga pertumbuhan portofolio secara konsisten,
bukan hanya mengejar lonjakan return sesaat,
dan mempertimbangkan ketahanan portofolio terhadap risiko pasar.
Selama masa kuliah di Universitas Islam Indonesia, Fajrin mulai belajar pasar modal dalam klub studi sebelum akhirnya terjun mengelola investasi secara profesional — sebuah proses pembelajaran yang menurutnya mendasari cara berpikir investor jangka panjang.
Dari sudut pandang investor, ini berarti return besar tanpa kontrol risiko bukan strategi investasi yang sehat, terlebih ketika pasar mulai bergejolak.
2. Momentum Lebih Penting daripada Kecepatan
Salah satu prinsip yang sering ditekankan Fajrin adalah:
“Investasi bukan soal siapa tercepat, tetapi tahu kapan momentum itu tepat.”
Artinya:
masuk ke instrumen investasi terlalu dini bisa membuat modal “terkunci” dalam drawdown,
masuk terlalu terlambat bisa membuat investor kehilangan peluang pertumbuhan optimal,
tetapi masuk di momentum yang tepat meningkatkan peluang risiko terkelola dan return positif.
Ini adalah salah satu alasan mengapa reksadana secara disiplin menjadi pilihan populer bagi investor yang ingin mengelola risiko tanpa harus memonitor setiap hari.
3. Risiko Volatilitas Harus Dipahami, Bukan Dihindari
Dalam pandangan Fajrin, volatilitas pasar—terutama di pasar saham—adalah bagian dari investasi, bukan musuh utama. Namun, investor tidak boleh menghadapinya secara emosional.
Volatilitas bisa saja membuat portofolio turun dalam jangka pendek, tetapi dengan alokasi yang tepat, volatilitas justru memberi kesempatan akumulasi di harga menarik — asalkan investor memahami profil risiko mereka sendiri.
Ini juga alasan mengapa produk reksadana, termasuk yang dikelola oleh manajer investasi seperti Sucorinvest, sering dirancang untuk mengelola volatilitas dengan pendekatan diversifikasi aset.
4. Manajemen Investasi: Bukan Hanya Tentang Saham
Salah satu pelajaran penting dari pendekatan Fajrin adalah bahwa investor tidak harus hanya fokus pada saham.
Pasar modal modern menyediakan banyak pilihan, termasuk:
reksadana saham untuk pertumbuhan jangka panjang,
reksadana pendapatan tetap yang lebih stabil pada fase suku bunga dan volatilitas tinggi,
hingga produk money market yang cocok untuk menyimpan likuiditas dengan risiko rendah.
Untuk investor yang belum siap mengambil risiko besar, beragam strategi seperti dollar-cost averaging (DCA) juga bisa membantu mengurangi risiko timing yang buruk.
5. Literasi & Edukasi: Bagian dari Strategi Investasi
Fajrin juga menekankan pentingnya investor terus belajar. Pasar modal tidak statis: syaratnya terus berubah, alatnya berkembang, dan produk-produk investasi baru muncul setiap tahun.
Bahkan di internal dunia manajer investasi, pendidikan investor menjadi fokus penting — bukan hanya untuk menjual produk, tetapi untuk membantu investor memahami pilihan mereka.
Ini sesuai dengan fakta bahwa industri manajemen investasi Indonesia kini mengelola puluhan triliun dana, dengan banyak produk yang sesuai dengan profil risiko beragam investor.
6. Kata Penutup untuk Investor: Sabar, Tetap Disiplin
Jika kita rangkum filosofi investasi Fajrin Hermansyah:
📌 Berinvestasi bukan hanya tentang menangkap return besar.
📌 Manajemen risiko dan momentum jauh lebih penting daripada kecepatan masuk pasar.
📌 Diversifikasi instrumen adalah alat untuk meredam volatilitas tanpa harus panik.
📌 Literasi dan disiplin adalah kunci jangka panjang.
Dengan pendekatan ini, investor tidak hanya mencari profit sesaat, tapi memupuk pertumbuhan portofolio yang sehat dan berkelanjutan—itu yang menarik investor profesional maupun investor ritel yang matang.


