
Pasar modal Indonesia sempat diramaikan isu rencana spin-off PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada pertengahan 2025. Kala itu, kekhawatiran investor cukup besar: apakah BMRI akan melepas aset strategisnya? Apakah laba konsolidasi akan tergerus? Dan apakah BRIS akan kehilangan “payung besar” induknya?
Namun memasuki Januari 2026, realitas yang terjadi justru jauh lebih elegan bahkan bisa dibilang “diam-diam”. Spin-off BRIS memang terjadi, tetapi tanpa transaksi jual beli saham, tanpa capital loss bagi BMRI, dan tanpa guncangan material ke laba kedua entitas.
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Per Januari 2026, BRIS resmi berada di bawah pengendalian PT Danantara Asset Management, dan secara status menyandang embel-embel (Persero), sejajar dengan BUMN lain yang dikendalikan langsung oleh Danantara.
Namun penting digarisbawahi:
👉 BMRI tidak kehilangan kepemilikan saham BRIS.
👉 BMRI hanya kehilangan pengendalian (control), bukan ownership.
BMRI hingga kini masih memegang 51,47% saham BRIS, menjadikannya pemegang saham terbesar secara ekonomi. Lalu bagaimana mungkin pengendalian berpindah?
Kunci Utama: Saham Seri A Dwiwarna
Mengacu pada keterbukaan informasi BEI per 27 Januari 2026, BRIS melakukan perubahan Anggaran Dasar. Intinya:
Surat kuasa khusus atas hak pemegang saham Seri A Dwiwarna yang sebelumnya diberikan kepada BMRI dicabut
Surat kuasa tersebut kemudian dialihkan ke PT Danantara Asset Management
Dalam struktur BUMN Indonesia, saham Seri A Dwiwarna bukan soal jumlah lembar, melainkan hak istimewa: hak veto, pengangkatan direksi/komisaris, dan keputusan strategis.
Artinya:
Danantara kini menjadi pengendali secara hukum dan tata kelola
BMRI tetap menjadi pemilik mayoritas secara ekonomi
Inilah yang membuat spin-off ini unik: kehilangan kontrol tanpa kehilangan saham.
Implikasi Akuntansi: Dari Anak Usaha ke Entitas Asosiasi
Karena BMRI tidak lagi menjadi pengendali, maka secara akuntansi:
Status BRIS di laporan keuangan BMRI berubah dari anak usaha menjadi entitas asosiasi
BMRI tidak lagi mengonsolidasikan:
pendapatan BRIS
beban
aset dan liabilitas
Sebagai gantinya, BMRI mencatat:
bagian laba bersih BRIS sesuai porsi kepemilikan (~51%)
Contoh konkret:
Laba bersih BRIS per Kuartal III/2025 ≈ Rp5,56 triliun
Porsi BMRI ≈ Rp2,8 triliun
Angka ini akan masuk sebagai “bagian laba entitas asosiasi”
Secara ekonomi, hasil akhirnya hampir identik dengan kondisi sebelum spin-off.
Apakah Laba BMRI Tergerus? Jawabannya: Tidak Material
Salah satu kekhawatiran utama investor adalah potensi penurunan laba bersih BMRI. Namun dalam struktur ini:
Total laba yang “mengalir” ke BMRI dari BRIS tidak berubah secara substansi
Hanya berbeda di penyajian laporan keuangan, bukan di arus nilai ekonomi
Dengan kata lain:
Spin-off ini bersifat netral terhadap bottom line BMRI.
Hal yang sama juga berlaku untuk dividen:
Jika BRIS membagikan dividen, BMRI tetap menerima sesuai porsi 51,47%
Danantara, meski memegang saham Seri A Dwiwarna, hanya menerima dividen sebesar kepemilikan ekonominya (1 lembar)
Keunggulan Danantara bukan di dividen, melainkan di hak veto dan kendali strategis.
Siapa yang Diuntungkan?
1. Pemerintah / Danantara
Mendapat kontrol langsung atas bank syariah terbesar Indonesia
Lebih leluasa menyelaraskan BRIS dengan agenda besar keuangan syariah nasional
Tanpa harus mengeluarkan dana besar untuk akuisisi saham
2. BMRI
Tidak kehilangan aset ekonomi
Tidak terdampak material secara laba
Struktur laporan keuangan menjadi lebih “bersih” dan fokus ke core banking konvensional
3. BRIS
Mendapat positioning sebagai bank syariah flagship negara
Potensi dukungan kebijakan dan konsolidasi syariah lebih besar
Tetap punya anchor shareholder kuat secara ekonomi (BMRI)
Apakah Isu Spin-off Masih Relevan?
Dengan struktur saat ini, isu spin-off praktis sudah selesai. Tidak ada transaksi besar, tidak ada dilusi, dan tidak ada kejutan negatif di laporan keuangan.
Ke depan, fokus investor justru bergeser ke:
Fundamental operasional BRIS: pertumbuhan pembiayaan, NPF, CASA syariah
Fundamental BMRI: ROE, dividen, efisiensi, dan pertumbuhan kredit korporasi
Isu eksternal: status Indonesia di indeks MSCI Emerging Market, yang bisa memengaruhi aliran dana asing
BMRI vs BRIS: Mana Lebih Menarik?
Semua kembali ke profil investor.
BMRI
Skala bisnis besar
Dividen yield menarik
Cocok untuk investor defensif dan income-oriented
BRIS
Pure play bank syariah
Ruang pertumbuhan masih luas
Cocok untuk investor growth dan thematic syariah
Kesimpulan
Spin-off BRIS dari BMRI adalah contoh rekayasa korporasi yang rapi, minim gesekan, dan hampir tanpa dampak ekonomi langsung. Pasar sempat khawatir, tetapi realisasinya justru menunjukkan bahwa tidak semua spin-off harus berujung pada kerugian pemegang saham.
Kini, baik BMRI maupun BRIS kembali ke habitat alaminya:
👉 dinilai berdasarkan fundamental, bukan isu struktural.
Pertanyaannya tinggal satu:
kamu tim stabilitas BMRI, atau tim pertumbuhan BRIS?


