Review Saham DRMA Posisi Kokoh di Balik Industri Otomotif Indonesia, Layak Dilirik Investor Jangka Menengah

a close-up of a machine

PT Dharma Polimetal Tbk (kode saham : DRMA) bukan nama baru dalam industri manufaktur otomotif Indonesia. Didirikan pada 27 Maret 1989, perusahaan ini lahir di bawah naungan Dharma Group, bagian dari Triputra Group, salah satu konglomerasi besar tanah air yang didirikan oleh pengusaha legendaris Theodorus P. Rachmat.

Sejak awal berdiri, Dharma Polimetal berfokus pada pembuatan komponen logam dan non-logam untuk kendaraan bermotor—mulai dari mur, baut, rangka, hingga sistem knalpot dan kabel kontrol. Perusahaan memulai kegiatan komersial pada 1990 dan secara bertahap berkembang menjadi pemasok utama bagi produsen kendaraan roda dua dan empat di Indonesia.

Langkah penting terjadi pada Desember 2021, saat DRMA resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Initial Public Offering (IPO) dengan harga penawaran Rp 500 per saham. Momentum itu menjadi tonggak transformasi, mengubah perusahaan keluarga menjadi entitas publik yang lebih transparan dan profesional.

Kini, lebih dari tiga dekade setelah berdiri, DRMA telah menjelma menjadi pemain besar di industri suku cadang otomotif nasional dengan rantai pasok yang terintegrasi dan reputasi kuat di kalangan produsen kendaraan besar, baik lokal maupun multinasional.

Sektor dan Industri

DRMA bergerak di sektor industri otomotif, tepatnya di bidang komponen kendaraan bermotor. Posisi ini menempatkan perusahaan dalam rantai pasokan utama antara produsen bahan baku dan produsen kendaraan (OEM).

Dengan industri otomotif Indonesia yang masih menjadi tulang punggung manufaktur nasional, prospek sektor ini tetap menarik. Produksi kendaraan bermotor domestik pada 2025 diperkirakan menembus 1,3 juta unit, sedangkan ekspor meningkat ke lebih dari 500 ribu unit. Permintaan komponen otomotif, baik untuk kendaraan konvensional maupun kendaraan listrik (EV), menjadi katalis alami bagi pertumbuhan DRMA.

Namun, bisnis komponen juga sensitif terhadap siklus ekonomi. Ketika daya beli menurun atau penjualan mobil stagnan, permintaan komponen OEM bisa ikut terkoreksi. Karena itu, kemampuan efisiensi dan diversifikasi pasar menjadi kunci.

Produk dan Jasa

DRMA menghasilkan lebih dari 1.000 jenis komponen otomotif, mencakup:

  • Komponen logam: rangka (frame body), bracket, panel instrument, muffler, suspensi, hood lock, hingga struktur rangka kendaraan.

  • Komponen non-logam: plastik, kabel harness, dan perlengkapan listrik kendaraan.

  • Komponen presisi untuk industri otomotif dan alat kesehatan (melalui anak usaha PT Dharma Precision Parts).

  • Komponen motor listrik dan kendaraan listrik (EV), melalui ekspansi joint venture dengan perusahaan Korea, Kyungshin Corp.

Produk-produk tersebut dipasok langsung ke produsen besar seperti Astra Honda Motor, Suzuki, dan beberapa merek mobil Jepang serta Korea lainnya. Artinya, DRMA beroperasi di model Business-to-Business (B2B), bukan penjualan ritel.

Struktur Organisasi dan Kepemilikan

Per September 2025, jajaran manajemen DRMA terdiri dari:

  • Presiden Komisaris : Hadi Kasim

  • Komisaris : Noel Aelyo Laras Kusuma Negara, Ir. Iwan Dewono Budiyuwono, Prof. Dr. Didik Junaedi Rachbini

  • Komisaris Independen : Soekamto Tjahjonoadi (dan Ketua Komite Audit), Gatot Sudariyono

  • Presiden Direktur : Ir. Irianto Santoso

  • Direktur : Yosaphat Panuturi Simanjuntak, Immanuel Adi Pakaryanto, Darmawan Widjaja

Penerima manfaat akhir (ultimate beneficial owner) adalah Ny. T.P. Rachmat L.R. Imanto melalui PT Dharma Inti Anugerah, induk utama DRMA. Dengan demikian, kontrol masih berada dalam lingkup Triputra Group, kelompok usaha yang dikenal konservatif dan berorientasi jangka panjang.

DRMA juga memiliki sejumlah anak usaha strategis seperti:

  • PT Dharma Electrindo Manufacturing (DEM) – komponen kelistrikan otomotif,

  • PT Dharma Poliplast (DPP) – komponen plastik dan helm,

  • PT Dharma Controlcable Indonesia (DCI) – kabel kendaraan,

  • PT Trimitra Chitrahasta (TCH) – stamping dan part otomotif,
    serta entitas baru PT Dharma Energy Resources (DER) yang mulai bergerak di bidang logistik dan energi pendukung produksi.

Kinerja Keuangan Terkini (Q3 2025)

a. Neraca

  • Total aset: Rp 3,85 triliun

  • Total ekuitas: Rp 2,68 triliun (naik 8,6 % YoY)

  • Liabilitas: sekitar Rp 1,17 triliun

  • Debt-to-Equity Ratio (DER): ≈ 0,44× – relatif rendah, menunjukkan struktur modal konservatif.

Berikut perkembangan Neraca Keuangan 5 Tahun Terakhir (by Stockbit):

Update Neraca 5 Tahun Berjalan (Annual)

b. Laba Rugi Konsolidasi

  • Pendapatan Q3 2025: Rp 4,35 triliun (naik 9,4 % YoY)

  • Laba bersih: Rp 419,87 miliar (naik 1,9 % dari Rp 412,07 miliar pada Q3 2024)

  • Margin laba bersih: ≈ 9,6 %

  • ROE (tahunan): ≈ 20 % – cukup menarik untuk industri manufaktur.

  • Dividen 2025: Rp 202,35 miliar (dibagikan pada Juli 2025).

Update Laporan Laba Rugi

 

Pertumbuhan penjualan berasal dari segmen roda dua (two-wheeler) yang naik signifikan, seiring pemulihan industri motor domestik. Namun, kenaikan biaya bahan baku dan logistik menekan margin kotor.

c. Arus Kas

  • Arus kas operasi bersih: Rp 603,7 miliar (+22,5 % YoY)

  • Arus kas investasi: -Rp 157 miliar (lebih rendah daripada -Rp 298 miliar tahun lalu)

  • Arus kas pendanaan: -Rp 262 miliar (dipengaruhi pembayaran dividen dan utang bank).

  • Kas akhir periode: Rp 586,18 miliar (naik 52 % YoY).

Kenaikan kas menandakan operasional yang semakin efisien dan kemampuan menjaga likuiditas. Free cash flow (FCF) tetap positif, memberi ruang untuk investasi pabrik atau ekspansi ekspor.

Analisis Rasio Keuangan Utama

RasioQ3 2025Interpretasi
Current Ratio> 2,0×Likuiditas sangat baik, aset lancar dua kali liabilitas lancar.
Gross Profit Margin≈ 18 %Masih stabil meski harga bahan baku naik.
Net Profit Margin≈ 9,6 %Sedikit menurun, tapi tetap di atas rata-rata industri.
Return on Equity (ROE)≈ 20 %Menunjukkan efisiensi tinggi dari modal sendiri.
Debt to Equity Ratio (DER)≈ 0,44×Utang relatif rendah → ruang ekspansi masih besar.
Dividend Payout Ratio≈ 48 %Kebijakan bagi hasil moderat, ramah bagi investor dividen.

Secara umum, angka-angka ini menunjukkan kinerja fundamental yang sehat, dengan rasio profitabilitas dan solvabilitas yang kuat.

Prospek Perusahaan

a. Domestik:
Permintaan komponen otomotif di Indonesia masih besar. Penjualan motor diprediksi menembus 5,6 juta unit tahun ini, sementara penjualan mobil sekitar 1,1 juta unit. DRMA, yang memperoleh lebih dari 60 % pendapatan dari segmen motor, akan diuntungkan secara langsung.

b. Ekspor:
Ekspansi ke pasar luar negeri mulai menunjukkan hasil. Melalui joint venture dengan Kyungshin (Korea), DRMA mengekspor komponen harness ke Amerika Serikat. Nilai ekspor meningkat tajam pada 2025, menjadi katalis baru di tengah pasar domestik yang mulai jenuh.

c. Diversifikasi Produk:
DRMA juga menyiapkan lini komponen untuk kendaraan listrik, seperti kabel tegangan tinggi, bracket baterai, dan casing logam ringan. Ini akan menjadi “game changer” jika penetrasi EV meningkat di Indonesia.

d. Teknologi dan Efisiensi:
Investasi otomatisasi dan digitalisasi produksi di pabrik Cikarang dan Cirebon diharapkan menekan biaya produksi 5-10 % per tahun, memperkuat margin jangka menengah.

Sentimen Pendorong Kinerja Saham

Positif:

  1. Fundamental kuat dan kas besar, menjamin dividen konsisten.

  2. Ekspansi ekspor ke AS memperluas basis pendapatan.

  3. Utang rendah memberikan fleksibilitas menghadapi suku bunga tinggi.

  4. Sektor otomotif membaik, terutama roda dua.

Negatif / Risiko:

  1. Ketergantungan pada OEM besar, membuat margin sensitif terhadap negosiasi harga.

  2. Fluktuasi bahan baku baja dan plastik.

  3. Transisi pada kendaraan listrik, yang bisa mengurangi permintaan komponen konvensional.

  4. Kurs dan logistik ekspor, terutama jika rupiah terlalu kuat.

Bagi investor ritel, memahami bahwa saham manufaktur otomotif seperti DRMA lebih cocok untuk horizon menengah-panjang (2-5 tahun) sangat penting. Fluktuasi jangka pendek sering kali dipicu oleh faktor makro, bukan kinerja fundamental.

Kesimpulan

Saham DRMA terbilang Stabil dengan Potensi Pertumbuhan Konsisten. Jika kita menilai dari laporan keuangan Q3 2025, DRMA berada dalam kondisi sehat, efisien, dan likuid.

Pendapatan tumbuh stabil, laba bersih meningkat tipis namun terjaga, arus kas operasi positif, dan utang rendah. Dengan ROE sekitar 20 % dan dividen payout ~ 48 %, DRMA tergolong saham manufaktur yang ramah bagi investor pemula yang menyukai dividen dan kestabilan jangka menengah.

Namun, potensi pertumbuhan cepat terbatas—bisnisnya padat modal dan bergantung pada industri otomotif yang fluktuatif. Tantangan terbesar ke depan adalah menavigasi transisi menuju kendaraan listrik serta menjaga efisiensi di tengah tekanan biaya global.

Untuk investor pemula yang baru belajar investasi, DRMA bisa menjadi “saham latihan” yang ideal, dimana emiten ini memiliki fundamental yang mudah dipahami, industrinya riil dan dekat dengan keseharian (mobil dan motor), serta memiliki rekam jejak laba yang konsisten.

DYOR

Iklan

Melalui ebook ini, Kamu akan belajar Komunikasi Keuangan dengan Mudah Secara Visual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *